Human Brain Project

31

Sudahkah Anda mendengar tentang Human Brain Project? Ini adalah proyek riset yang digagas oleh Ecole polytechnique federale de Lausanne (institut teknologi yang didirikan oleh pemerintah federal Swiss, berlokasi di kota Lausanne) dan bertujuan untuk meneliti otak manusia—Amerika Serikat memiliki proyek serupa dengan tajuk BRAIN Initiative.

Pertama kali mendengar namanya, yang terpikir oleh saya adalah suatu proyek penelitian otak manusia yang cakupannya hanya di bidang kedokteran, entah itu masalah kesehatan otak ataupun cara kerjanya. Namun setelah saya menggali informasinya lebih jauh, ternyata ruang lingkup proyek penelitian ini begitu luas.

Dua fokus utama Human Brain Project (HBR) adalah mengembangkan metode pengobatan baru untuk penyakit otak dan menciptakan teknologi komputasi baru yang revolusioner. Bila dijabarkan secara lebih spesifik lagi, program HBR ini akan mengembangkan platform teknologi informasi dan komunikasi pada enam bidang subproyek: neuroinformatics, brain simulation, high-performance computing, medical informatics, neuromorphic computing, dan neorobotics. Namun di sini saya tidak akan membicarakan keenam subproyek tersebut.

Mari kita kembali ke fokus utama HBR. Di antara dua hal yang telah disebutkan tadi, yang paling menarik bagi saya adalah teknologi komputasi baru yang revolusioner. Akan serevolusioner apakah teknologinya kelak? Saya akan mencoba memberikan sedikit gambarannya.

Alasan digunakannya otak manusia sebagai acuan pada proyek HBR adalah karena, untuk saat ini, organ tubuh tersebut merupakan “mesin” paling kompleks dan paling sempurna di dunia. Selain itu, otak manusia dan komputer memiliki banyak kesamaan secara filosofi. Jadi wajar apabila para ilmuwan bidang kesehatan dan teknologi berkeinginan untuk meniru kemampuannya.

Pada tahap awal, para ilmuwan yang terlibat di HBR akan mempelajari secara lebih mendalam fungsi otak manusia. Dari situ, mereka diharapkan bisa memahami bagaimana cara manusia belajar, berpikir, melihat, dan mendengar. Singkatnya, dari data-data yang diperoleh, kelak akan tercipta sebuah komputer yang memiliki kinerja sangat tinggi—atau istilahnya adalah superkomputer—pada tahun 2020 nanti.

Superkomputer termutakhir sekaligus tercepat saat ini adalah Tianhe-2 buatan China. Tianhe-2 diklaim mampu menjalankan 33 kuadriliun—setara dengan 33 ribu triliun—operasi matematika per detik. Program HBR sendiri berambisi menciptakan superkomputer yang 1000 kali lebih cepat daripada Tianhe-2. Sebagai perbandingan, prosesor single-core 2,5 GHz secara teori “hanya” mampu menjalankan 10 miliar operasi matematika per detik.

Sepanjang sejarahnya, superkomputer banyak digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan komputasi di berbagai bidang, meliputi mekanika kuantum, ramalan cuaca, penelitian iklim, eksplorasi minyak dan gas, serta simulasi-simulasi fisika (seperti simulasi aeordinamika pesawat terbang dan pesawat luar angkasa, serta ledakan senjata nuklir).

Sementara itu, tebersit khayalan “liar” di pikiran saya sehubungan Human Brain Project ini. Saya membayangkan di masa depan akan ada perangkat semacam chip yang berfungsi untuk membaca dan menerjemahkan pikiran manusia. Kelak chip ini ditanamkan di dalam otak dan bisa “berkomunikasi” secara nirkabel dengan perangkat lain.

Bayangkan, apa yang sedang Anda pikirkan bisa dicitrakan melalui layar monitor. Atau, penerapan yang lebih luas lagi, chip ini bisa difungsikan sebagai asisten pribadi seperti halnya Apple Siri dan Google Now, namun berbeda dalam hal pengoperasian. Jika pada saat ini fitur asisten pribadi dijalankan melalui perintah suara, maka di masa depan cukup dengan perintah pikiran. Apabila hal ini menjadi kenyataan, Anda bisa menelepon seseorang tanpa harus menekan keypad pada layar, cukup bayangkan orang yang dimaksud; atau melakukan pencarian Web hanya dengan memikirkan item yang ingin dicari.

Satu penerapan lagi dan mungkin terdengar agak konyol: chip ini digunakan untuk memberantas korupsi. Ya, betul, memberantas korupsi. Bagaimana caranya? Di masa depan, setiap pejabat negara wajib menanamkan chip ini di dalam otaknya masing-masing. Sebagai bagian dari pengawasan, chipakan terhubung dengan, katakanlah, sistem alarm yang terdapat di lembaga-lembaga penegak hukum. Jadi apabila ada seorang pejabat yang berniat ingin memakan uang negara, sistem alarm akan mengeluarkan tanda pengingat dan pihak yang berwenang pun bisa langsung melakukan tindakan. Terlalu berlebihan? Sekali lagi, ini hanyalah fantasi liar yang timbul setelah saya membaca tentang seluk-beluk Human Brain Project.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.