Studi: Berlama-lama di Facebook dan Instagram Membuat Anda Depresi

24

Intro

Para ilmuwan di Sekolah Kedokteran Universitas Pittsburgh baru-baru ini melakukan penelitian yang mempelajari pengaruh media sosial, termasuk Facebook dan Instagram terhadap mood penggunanya. Penelitian tersebut menunjukkan semakin banyak waktu yang digunakan di depan media sosial akan membuat penggunanya depresi. Penelitian tersebut bisa membantu para ahli dalam mengobati pasien yang menderita depresi.

Dilansir dari Forbes, Brian A. Primack, M.D., Ph.D., peneliti senior dan direktut Pusat Pitt untuk Penelitian Media, Teknologi, dan Kesehatan menyatakan anak muda yang menggunakan media sosial harus menyadari pemakaian yang seimbang agar bisa mendapatkan hasil yang lebih positif daripada masalah yang mungkin ditimbulkan media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Dr. Primack dan tim peneliti mengambil partisipan dari 1787 orang dewasa di Amerika Serikat dengan rentang umur mulai dari 19 tahun hingga 32 tahun. Partisipan diberikan sejumlah pertanyaan mengenai penggunaan media sosial. Jawaban yang berhasil dikumpulkan kemudian dikoordinasikan dengan alat pengujian depresi. Selain Facebook dan Instagram, platform media sosial lain yang dianalisa adalah YouTube, Twitter, Google Plus, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, dan LinkedIn.

Menurut jawaban yang didapatkan dari para partisipan, mereka rata-rata menggunakan media sosial sekitar 61 menit per hari dan mengunjungi akun media sosial sebanyak 30 kali per minggu. Hal yang meresahkan dari penelitian ini, sekitar satu perempat dati partisipan tersebut menunjukkan gejala depresi yang berat. Tim peneliti mengungkapkan terdapat hubungan langsung yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan depresi tidak peduli apakah dihitung berdasarkan durasi yang dihabiskan saat menggunakan media sosial atau frekuensi membuka akun media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

Dibandingkan dengan pengguna yang membuka media sosial lebih jarang, para partisipan yang lebih sering membukanya memiliki kecenderungan terkena depresi sebanyak 2,7 kali lebih besar. Sedangkan jika dibandingkan dengan pengguna yang lebih sedikit menghabiskan waktu di media sosial, mereka memiliki resiko depresi sebanyak 1,7 kali lebih tinggi.

Menurut salah satu tim peneliti, Lui yi Lin, kemungkinan pengguna media sosial yang terkena depresi menggunakan Facebook dan Instagram serta media sosial lain untuk mengisi kekosongan atau kehampaan.

 

Mengapa penggunaan media sosial bisa menimbulkan depresi

Terpaan media sosial yang tinggi menjadi penyebab depresi yang dialami oleh para pengguna yang berat. Potret kehidupan sosial teman, kerabat, atau keluarga di Facebook dan Instagram atau media sosial lain bisa menimbulkan perasaan iri. Hal tersebut juga membentuk keyakinan di dalam benak pengguna kalau teman-teman mereka di media sosial memiliki kehidupan yang lebih bahagia dan lebih sukses.

Adapun menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial juga meningkatkan terpaan terhadap cyber-bullying yang menghasilkan depresi. Selain itu, media sosial pun menjadi salah satu penyebab terbesar kecanduan Internet yang dipercaya sebagai kondisi kejiwaan yang berkaitan erat dengan depresi. Penelitian ini sendiri didanai oleh Institusi Kesehatan Nasional Amerika Serikat dan diterbitkan sebagai isu untuk bulan April pada jurnal Depression and Anxiety.

Perusahaan teknologi pun sudah proaktif dalam membantu penggunanya yang depresi. Jika pengguna Tumblr melakukan pencarian dengan mengetik kata ‘depressed‘ atau ‘suicidal‘, blog ini akan menampilkan sumber-sumber yang bisa membantu serta bertanya apakah segalanya baik-baik saja. Facebook juga mempunyai fitur yang hampir serupa.

Platform media sosial yang memiliki 1,6 miliar akun di seluruh dunia ini memungkinkan penggunanya untuk melaporkan update status yang mengindikasikan depresi dengan men-tap tanda panah ke bawah di kotak dan mengklik “I think it shouldn’t be on Facebook” > “It’s threatening, violent or suicidal” > “Choose a type…” > yang bisa menawarkan bantuan atau dukungan kepada pengguna bersangkutan.

 

Facebook bisa mempengaruhi mood penggunanya

Sudah bukan rahasia lagi kalau media sosial yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg ini bisa mempengaruhi mood penggunanya. Peneliti data Facebook melakukan studi kontroversial yang mempelajari perilaku pengguna Facebook pada Januari 2012 lalu. News Feed dari 689.000 pengguna Facebook dimanipulasi dengan postingan yang positif maupun negatif. Penelitian ini memberikan hasil seperti yang diharapkan. Pengguna yang melihat lebih banyak konten negatif akan berbagi konten yang juga negatif, begitupun sebaliknya.

Tahun 2015 lalu, sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Social and Clinical Psychologymenampilkan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Universitas Houston. Mereka menyimpulkan penggunaan Facebook memiliki hubungan langsung dengan gejala-gejala depresi yang kemudian disebut sebagai ‘perbandingan sosial’, sebuah fenomena psikologis yang terkenal.

Lain halnya dengan para peneliti di Universitas Michigan pada Agustus 2013 silam. Mereka menerbitkan sebuah jurnal yang berjudul ‘Facebook Use Predicts Declines in Subjective Well-Being in Young Adults‘. Penelitian ini menghasilkan simpulan yang menyatakan orang yang lebih lama menggunakan Facebook pada waktu tertentu akan menurunkan kebahagiaan mereka.

Facebook dan Instagram

Lalu, apa yang harus Anda lakukan jika Anda mengalami depresi karena menggunakan media sosial? Para peneliti merekomendasikan Anda harus segera berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental. Pun Anda harus mengurangi waktu menggunakan Facebook dan Instagram serta platform media sosial lainnya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *